SUMPAH PEMUDA 4.0

Diperbarui: 11 Nov 2020

Para pemuda-pemudi Indonesia. 92 tahun sudah kita memperingati Sumpah Pemuda yang terjadi pada 1928 silam. Ikrar Sumpah Pemuda kala itu menyatukan semua perbedaan dan kekuatan untuk meraih sebuah tujuan yang besar, yakni Indonesia merdeka. Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, pemuda selalu menjadi pelopor dan sekaligus inspirasi bagi kelompok lainnya dalam soal memperjuangkan kepentingan khalayak luas.


Tahun 1928, semua kelompok pemuda yang waktu itu bergerak sendiri-sendiri yang didasarkan atas primordialisme daerah, sektarianisme berdasarkan suku dan sebagainya menyadari bahwa jika mereka bergerak masing-masing tanpa ada satu kesatuan, maka efektivitas untuk meraih kemerdekaan bangsa ini akan sulit tercapai.


Berangkat dari realitas tersebut, mereka kemudian mempelopori untuk menyatukan semua kekuatan dalam wujud Sumpah Pemuda. Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia tahun 1945 pun pemuda selalu tampil menjadi inspirasi dan pelopor dalam rangka memerdekakan bangsa Indonesia.

Perjuangan pemuda di setiap zaman tentu berbeda konteks. Tetapi di setiap zaman pemuda harus selalu tampil. Kita tentunya masih ingat peristiwa pergolakan besar gerakan reformasi di tahun 1998 dengan pemuda utamanya kalangan mahasiswa menjadi pelopor gerakan tersebut.


Dalam konteks kekinian, kita ingin tetap menempatkan pemuda sebagai pelopor sebagai agen perubahan dan sekaligus juga sebagai inspirator bagi masyarakat. NasDem Jawa Barat melalui wakil ketua bidang milenialnya menyelenggarakan peringatan Sumpah Pemuda 4.0 dengan menampilkan dua orang narasumber yang memberikan sebuah inspirasi bagi kita semua, bahwa hal yang tidak mungkin dapat menjadi mungkin dengan cara bekerja keras. Keberhasilan & hanya bisa kita raih melalui kerja keras, daya juang yang kuat serta tentunya melalui kesabaran dan pengorbanan.


Avinash Kalay selaku Wakil Ketua Pemilih Pemula dan Millennial DPW Partai NasDem Jawa Barat mengatakan bahwa pemilihan judul “ Sumpah Pemuda 4.0” karena melihat realita bahwa pemuda masa kini akan berjuang di era 4.0. jika perjuangan pemuda 92 tahun yang lalu berjuang melawan penjajah untuk kemerdekaan dan mempersatukan bangsa Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Maka anak muda zaman sekarang perjuangannya juga masih akan melawan penjajahan bangsa lain namun bukan dalam hal angkat senjata. Persaingan bisnis dimana berbagai macam produk luar negeri kini secara bebas masuk ke dalam negeri dan berpotensi mengancam matinya produk buatan Indonesia sendiri menjadi salah satu bentuk perjuangan yang harus dihadapi para pemuda generasi 4.0 saat ini dan kedepannya.


Dua tokoh inspiratif yang dihadirkan adalah Herayati Rizki & Sahrul Gunawan. Keduanya dianggap mencerminkan perjuangan sumpah pemuda di era 4.0. Keduanya memiliki pengalaman & cerita sendiri dalam berjuang meraih kesuksesan. Kisah keduanya diharapkan dapat memberikan sebuah inspirasi bagi generasi muda saat ini agar menjadi pelopor perubahan dalam setiap bidang kehidupan. Baik Herayati Rizki dan Sahrul Gunawan adalah penggambaran yang tepat akan sosok muda yang tangguh, pekerja keras dan memiliki daya juang tinggi untuk mengubah sesuatu dari yang dianggap tidak mungkin menjadi mungkin tercapai.



Herayati Rizki



Herayati Rizki atau akrab disapa Hera ini adalah sosok generasi muda yang inspiratif. Hera adalah anak seorang tukang becak asal Cilegon, Banten yang berhasil lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan predikat Cum Laude. Kisah inspiratif dari perempuan kelahiran Serang 17 April 1995 tersebut sempat viral dan menginspirasi banyak orang khususnya yang juga berasal dari keluarga tidak mampu seperti Hera untuk tidak menyerah menggapai cita-cita meski dilanda keterbatasan materi.


Hera lulus S1 Program Studi Kimia di Fakultas MIPA ITB di Sabuga, Bandung dengan predikat Cum Laude dengan IPK 3,7. Ia juga menyelesaikan Master di ITB dengan IPK juga dengan raihan Cum Laude yakni 3,88. Hebatnya pencapaiannya di bidang akademik dengan meraih gelar master tersebut diraihnya dalam waktu yang terbilang singkat. Hera mampu menyelesaikan pendidikan S2 nya dalam waktu 10 bulan saja jika pada umumnya berlangsung selama 2 tahun.


Bagi Hera, mendapatkan beasiswa untuk kuliah di ITB yang merupakan salah satu kampus favorit di Indonesia memberinya tantangan dan motivasi tersendiri karena sebagian besar mahasiswanya memiliki latar belakang orang mampu dan tingkat akademik yang mumpuni. Namun demikan Hera mengaku tak minder dan nyatanya mampu bersaing. Meski berlatar belakang ekonomi yang kurang memadai, Hera tak gentar. Dirinya malah termotivasi dengan dukungan orangtuanya yang menaruh harapan besar padanya.


Ia tidak memiliki teman dekat atau orang yang bisa diandalkan saat memulai hidup secara mandiri di luar kota jauh dari kedua orangtuanya. Namun Hera tidaklah gentar. Beasiswa yang didapat nyatanya tidaklah mencukupi untuk biaya sehari-hari selama ia menempuh pendidikan di ITB. Hera tak kehilangan akal, ia mencari uang dengan menjadi asisten dosen dan menjadi pengajar di bimbingan belajar (Bimbel) di Kota Bandung.


Hera sebelumnya mengaku pernah gagal masuk ITB di seleksi pertama lewat jalur undangan, namun ia tidak patah semangat dan kembali memberanikan diri mengkiuti seleksi lewat jalur SNMPTN dan akhirnya lulus di Teknik Kimia ITB, jurusan yang ia idam-idamkan. Saat dirinya berniat untuk melanjutkan pendidikan ke bangku universitas, kedua orangtua Hera sempat merasa ragu dan khawatir karena memikirkan biayanya yang tinggi. Namun karena Hera menunjukan tekad yang kuat,kedua orangtuanya pun merasa yakin terhadap pilihan anak bungsunya tersebut.



Dalam perjuangannya, Hera selalu mempercayai bahwa salah satu cara untuk mengubah jalan hidup seseorang adalah melalui jalur pendidikan. Hera sangat yakin Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu, dan beasiswa di ITB pun seakan membuak jalannya untuk kuliah. Sebagai generasi muda, Hera juga mengamalkan semangat juang Sumpah Pemuda. Menurutnya, pemuda-pemudi Indonesia dapat mengaplikasikan semangat juang sumpah pemuda dari hal dan ruang lingkup terkecil terlebih dahulu.


Jika cita-cita Pemuda-pemudi tahun 1928 berjuang untuk mencapai cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Generasi muda saat ini setidaknya dapat menerapkannya untuk berjuang mengubah kondisi keluarganya ke arah dan keadaan yang lebih baik. Perjuangan juga bisa dilakukan di lingkungan sekitar dengan menjadi pribadi yang bermanfaat. Untuk menggapai apa yang kita cita-citakan menurut Hera diperlukan memiliki tujuan dalam hidup terlebih dahulu sehingga niat kita tidak akan bimbang dan selalu bersemangat untuk mengejar cita-cita.


Generasi muda juga harus senantiasa dekat dan percaya terhadap kehadiran dan andil Tuhan dalam setiap langkah yang ditempuh dalam menjalani hidup. Baginya, Allah akan membantu seseorang sebuah menemukan jalan keluar dari berbagai permasalahan jika orang tersebut mau bersungguh-sungguh mencari jalan keluarnya. Jangan pernah menyerah terhadap keadaan Ketika kita memiliki keinginan, maka niscaya allah akan menjawab dengan tiga cara. Yang pertama akan langsung mengabulkan doa kita, yang kedua adalah mengganti dengan lebih baik, dan yang ketiga akan mengabulkannya di waktu yang tepat. Jadi jangan menyerah untuk apapun keadaannya. Seandainya tidak tercapai pun tidak perlu menyerah dan tidak terlalu kecil hati. Kita harus tetap optimis dan positive thinking mencari jalan lainnya.


Saat ini zamannya era digital. Dengan berbagai kecanggihan teknologi komunikasi dan Informasi, generasi muda saat ini dinilai Hera punya banyak cara untuk aktif membagikan semangat dan berkontribusi untuk bangsa termasuk lewat media sosial. Sudah bukan waktunya lagi generasi muda saat ini merasa bingung perihal bagaimana caranya berkontribusi untuk bangsa. Setiap Individu punya potensinya masing-masing. Jadilah yang terbaik dengan jalan dan cara kalian sendiri. Berikanlah yang terbaik dari jalur yang kalian mampu menempuhnya.


Kini dengan adanya media sosial, generasi muda setidaknya dapat ikut aktif mempropagandakan semangat persatuan dari hal yang simple. Salah satunya dengan tidak mengindahkan hoax yang dapat memecah belah bangsa. Aktif menangkal hoax di media sosial juga merupakan bagian dari implementasi semangat Sumpah Pemuda di era kekinian. Jangan sampai dahulu bangsa kita bersatu karena melawan penjajah , akan tetapi setelah merdeka justru terpecah hanya karena termakan hoax.


Dalam pandangannya, status pemuda sejatinya tidak hanya diukur berdasarkan usia semata. Bagi Hera pemuda adalah orang yang masih produktif dan masih bisa menjalankan fungsinya sebagai manusia dengan baik. Pergunakanlah waktu sebaik mungkin. Bgai generasi muda yang saat ini masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi diharapkan dapat lulus di waktu yang tidak hanya cepat namun juga tepat. Tepat dalam artian jika kalian telah memastikan bahwa sudah cukup banyak kegiatan atau hal bermanfaat yang kalian lakukan selama kuliah untuk bekal menuju lembaran kehidupan baru kedepannya agar masa depan kalian dapat indah pada waktunya.


Sahrul Gunawan


Pernyataan Herayati Rizki perihal pentingnya pemanfaatan waktu dengan mengisi kegiatan yang bermanfaat diamini oleh sosok Sahrul Gunawan yang merupakan seorang seniman dan entrepreneur. Sosok lelaki berusia 44 tahun tersebut kini mungkin tidak lagi banyak menghiasi layar kaca televisi Indonesia. Sahrul yang tenar berkat perannya sebagai Jun di sinetron Jin & Jun di akhir 90an kini tengah fokus mempersiapkan diri untuk Pilkada 2020 sebagai Calon Wakil Bupati Kabupaten Bandung.


Bagi Sahrul, waktu dapat memberi dampak negatif bagi diri kita jika dihabiskan dengan banyak berleha-leha dan terlalu santai. Ia membagikan sedikit pengalamannya kala dirinya meng explore berbagai hal sejak masih di bangku SMA. Sahrul banyak mengikuti berbagai kompetisi di bidang seni khususnya menyanyi. Ia juga aktif di berbagai organsiasi demi memaksimalkan potensi diri dan meng ekspresikan diri seluas mungkin.


Senada dengan apa yang dikatakan oleh Herayati, ia juga mengamini bahwa Kita tidak akan dapat merubah nasib kita jika kita sendiri tidak berusaha untuk merubahnya. Ia bercerita saat ia terpaksa harus masuk ke jurusan yang sejatinya tidak ia inginkan di bangku kuliah. Sahrul awalnya berencana untuk menempuh pendidikan di Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung mengambil jurusan Hubungan Masyarakat karena ketertarikannya di dunia komunikasi dan Hospitality. Namun apa daya, singkat cerita ia gagal masuk ke UNPAD sehingga terpaksa harus kuliah di Universitas Pakuan Bogor mengambil jurusan ekonomi. Kedua orangtuanya tidak memperbolehkan untuk berkuliah di luar bogor jika dirinya gagal lolos ke Perguruan Tinggi Negeri. Sehingga ia akhirnya masuk ke Universitas Pakuan Bogor, sayangnya disana tidak terdapat jurusan Hubungan Masyarakat yang merupakan tujuannya.


Namun siapa sangka? Justru kegagalan Sahrul masuk Ke UNPAD menjadi awal dari jalan kesuksessan dan ketenaran yang diraihnya saat ini. Sahrul ingin generasi muda dapat mengambil pelajaran berharga dari sepenggal kisah hidupnya yang justru meraih sukses setelah bangkit dari kegagalan dan terus berpikir positif bahwa tuhan telah menyediakan jalan lain bagi dirinya untuk meraih kesuksessan. Dengan mentaati perintah kedua orangtuanya, Tuhan seakan memudahkan dirinya untuk mengembangkan diri di dunia entertain di ibu kota karena jarak antara Bogor dengan Jakarta tidak terlalu jauh. Dengan berkuliah di Bogor ia jadi bisa menyelingi waktu luangnya untuk mengikuti berbagai macam casting untuk acara televisi dan rekaman di studio di Jakarta.


Setelahnya adalah kisah sukses yang diraih Sahrul di dunia entertaint. Berbagai tokoh utama di banyak sinetron hits ia perankan. Belum lagi dengan sukses yang juga sempat dirasakannya di dunia tarik suara, seakan menggambarkan betul arti dari semangat pantang menyerah untuk menggapai impian.

Dalam perjalanannya, Sahrul bahkan mampu mewujudkan satu lagi impiannya yakni mendirikan sebuah yayasan dan SMK Pariwisata di Bogor. Sahrul yang begitu tertarik di dunia Hospitality sebetulnya juga ingin masuk sekolah perhotelan. Namun pada kenyatannya, ia malah sukses mendirikan sebuah sekolah pariwisata meskipun ia tidak berkesempatan mengenyam bangku sekolah pariwisata.



Sahrul adalah sosok pemuda inspiratif yang telah melakukan banyak hal besar untuk orang lain. Kini ia berkesempatan untuk kembali mewujdukan satu lagi impiannya yakni berjuang untuk masyarakat luas lewat kursi Wakil Bupati di Kabupaten Bandung. Dalam impiannya, ia ingin mengimplementasikan kecintaannya di dunia pariwisata di Kabupaten Bandung. Ia berkeinginan memajukan wilayah dan tentunya masyarakat di Kabupaten Bandung lewat jalur pengembangan pariwisata.


Bagi Sahrul, menjaga keutuhan Indonesia juga merupakan bagian dari refleksi Sumpah Pemuda di era kekinian saat ini. Menurutnya kini banyak sekali gerakan radikal yang ingin memecah belah bangsa Indonesia. Apa yang diperjuangkan oleh para pahlawan yang telah mewujudkan kemerdekaan dan persatuan Indonesia harus selalu dijaga oleh seluruh elemen bangsa khususnya para pemuda.


Well, Sumpah Pemuda adalah Semangat perjuangan persatuan Pemuda pada tahun 1928 yang masih bisa kita terapkan sebagai cara untuk berjuang sebagai pemuda di era masa kini. Pemuda masa kini harus terus percaya diri untuk mencapai target dan tujuannya. Era 4.0 adalah momen dimana kolaborasi menjadi salah satu hal yang terpenting dan yang bisa membuat siapa pun menjadi lebih maju dan berkembang. Seperti halnya Herawati dan Sahrul Gunawan yang tidak akan dapat meraih sukses tanoa bantuan dan dorongan orang-orang di sekitarnya.


Di era digital saat ini, Sumpah Pemuda seharusnya tidak lagi hanya menjadi sekedar jargon, seremonial atau sesuatu yang patut kita kenang saja. Pemuda harus menjadi pionir yang membenahi segala bentuk kesalahan masa lalu dari bangsa ini sehingga nantinya akan tercipta bangsa cerdas yang visioner dan tidak lagi berkutat dengan peristiwa masa lalu yang berujung saling menyalahkan satu sama lain, yang mirisnya hal tersebut saat ini masih kerap tersaji di Bumi Pertiwi.



17 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua