Agama, Politik dan Kebebasan Berpendapat Dalam Pemikiran Al Mawardi



Ngaji Kitab Kuning bertajuk Ramadan Bersama NasDem telah memasuki sesi keempat yang mengupas Agama, Politik dan Kebebasan Berpendapat dari kitab Al-Ahkamu Sulthaniyah Karya Al-Mawardi, dengan menghadirkan Dosen Universitas Paramadina, Luthfi Assyaukanie selaku narasumber.


Dalam acara yang diselenggarakan oleh Bidang Kaderisasi dan Pendidikan Politik DPP NasDem dan Tim Perpustakaan Panglima Itam Library of NasDem itu, sebelum masuk kepada inti pembahasan utama, Luthfi lebih dulu menjabarkan konteks sejarah yang sangat penting saat Al-Mawardi hidup dan menuliskan karyanya.


Menurut Luthfi, Era Dinasti Abbasiyah merupakan era kegemilangan peradaban Islam. Namun disebutkan Luthfi bahwa Al-Mawardi hidup di masa-masa awal keruntuhan Daulah Abbasiyah sehingga kitab Al-Ahkam dijait Al-Mawardi sebagai suatu perangkat untuk menjadi pegangan pemerintah dalam menjaga ketertiban jalannya pemerintahan.



Luthfi melanjutkan bahwa karya Al Mawardi ini berisi teori atau penjelasan politik dan pemerintahan yang berbeda dengan apa yang dilakukan oleh penulis lainnya seperti Al Farabi yang begitu idealis dan teoritis.


“Buku Al Mawardi itu sangat praktis. Dia seperti manifesto atau guideline yang selalu mengingatkan pemimpin itu seperti apa, syaratnya apa dan siapa yang berhak,” sambung dia.

Menurut Lutfhi, Al-Mawardi berusaha ingin menampilkan keberagaman namun di tengah keberagaman itu jangan sampai ada kelompok yang dibiarkan nantinya melakukan pemberontakan menjadikan negara sendiri.


Kitab Al-Ahkam lanjut Lutfhi menjadi sebuah karya yang bersifat untuk memberikan pembelaan kepada kekuasaan yang hampir runtuh. Hal itu kata dia berbeda dengan karya-karya penulis lain seperti Al-Farabi, Ibnu Sina dan lainnya.


“Kalau kita lihat isi buku dan uraian-uraian Al Ahkam bisa meguatkan lembaga negara itu kokoh dan pemerintahan tidak dirongrong dan potensi pemberontakan yang bisa melamahkan negara bia ditumpas,” kata dia.

Dalam sejarah Islam kata Luthfi ada beberapa ulama yang punya keahlian bukan hanya di ilmu-ilmu agama tetapi juga dalam ilmu-ilmu duniawi seperti ilmu sosial politik atau ilmu alam seperti kedokteran.


“Al Mawardi ini adalah seorang ulama hukum atau ahli politik,” ujar Lutfhi.


Tidak lupa Luthfi Assyaukanie yang hadir sebagai narasumber utama dalam sesi keempat ini memberikan apresiasi kepada acara Ngaji Kitab Kuning yang digelar oleh Partai NasDem.


Luthfi menilai kegiatan literasi sangat penting dilakukan apalagi kata dia NasDem memiliki perpustakaan yang sangat megah. Untuk itu dia pun berharap semangat NasDem dalam menggelar kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan berlangsung secara rutin di luar bulan Ramadhan.


“Ini kegiatan yang bagus sekali. Bedah buku di perpustakaan dan juga perpustakaannya luar biasa bagusnya. Dengan kegiatan bedah buku berdiskusi tentang buku itu saya kira patut dilanjutkan dan terus dirawat,” harap Luthfi yang merupakan alumni The University Of Melbourne.




#AlMawardi #KitabAlAhkamuSulthaniyah #AlAhkamuSulthaniyah #NgajiKitabKuning #RamadanBersamaNasDem #Agama #Politik #KebebasanBerpendapat #LuthfiAssyaukanie

#Paramadina #UnivParamadina #AhmadBaidhowi #PartaiNasDem #GerakanPerubahan #RestorasiIndonesia#Ramadhan #NasDemTower #PanglimaItamLibraryofNasDem #BahtsulKutub #DPPPartaiNasDem #RamadanBersamaNasDem


5 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua